PAMONG.ID | Kanal Pendidik Indonesia – The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat skor literasi sains dan membaca siswa Indonesia pada Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 6 poin, seiring melonjaknya akses pendidikan formal hingga 90 persen. Capaian dalam asesmen internasional yang melibatkan 91 negara dan 760 ribu murid sampel tersebut menunjukkan Indonesia berhasil memperluas partisipasi sekolah secara masif tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.
Berdasarkan data PISA 2025 yang dirilis pada Selasa (8/9/2026), skor literasi sains Indonesia yang menjadi fokus utama penilaian tahun ini naik dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389. Skor membaca juga meningkat dari 359 menjadi 365, sedangkan skor matematika berada di angka 364.
Di sisi lain, proporsi anak usia 15 tahun yang berada dalam sistem pendidikan formal (Coverage Index) melonjak hampir dua kali lipat dari 0,46 pada PISA 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025. Kenaikan ini menandai perluasan akses pendidikan yang signifikan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk sejak diberlakukannya tes berbasis komputer (Computer Based Test/CBT) secara penuh pada PISA 2018.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyampaikan bahwa pencapaian ini tergolong positif di tengah dinamika pendidikan global.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains," jelas Toni Toharudin.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, turut mengapresiasi keberhasilan Indonesia dalam memperluas akses pendidikan tanpa menurunkan mutu pembelajaran. Temuan OECD menunjukkan bahwa murid usia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan (curiosity) yang tinggi serta kemampuan belajar mandiri. Selain itu, siswa Indonesia mencatatkan performa lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional serta lebih aktif menilai kredibilitas konten kecerdasan artifisial (AI) dibandingkan murid di banyak negara lain.
Menindaklanjuti hasil PISA 2025, Kemendikdasmen menetapkan empat pilar strategi utama, yaitu penguatan kompetensi guru (termasuk koding dan AI), peningkatan kualitas pembelajaran mendalam dan digitalisasi, harmonisasi Asesmen Nasional (AN) serta Tes Kemampuan Akademik (TKA) dengan kerangka PISA, dan penguatan peran keluarga melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH). Untuk mendukung strategi tersebut, Kemendikdasmen juga menyediakan platform pembelajaran seperti Perangkat Ajar Ruang GTK, Ruang Murid, dan portal simulasi Pusmendik.
0Komentar