| Sesi pembuka oleh Pemantik |
SEMARANG, PAMONG.ID | Kanal Pendidik Indonesia – Departemen Pendidikan Islam, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Forum Ukhuwah Mahasiswa Muslim Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FUMMI FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar acara Booktalk, membedah buku Pendidikan Kaum Tertindas karya Paulo Freire. Kegiatan yang menjadi bagian dari program Madrasah Cendekia ini berlangsung secara interaktif di Pelataran Perpustakaan Rumah Ilmu UNNES pada Sabtu (3/10/2026).
Rangkaian acara diawali dengan
pembacaan tilawah Al-Qur'an, Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang dipilih karena
dinilai relevan dengan semangat menuntut ilmu. Diskusi kemudian dipantik oleh
Kak Hilmi Ibadurohman yang memaparkan gambaran umum sekaligus menyeluruh
mengenai isi dan substansi pemikiran Paulo Freire dalam buku tersebut.
Diskusi berjalan dengan cukup
interaktif dan dialogis, para peserta menyampaikan gagasan serta pertanyaannya secara
tertib dan bergantian, berfokus pada relevansi pemikiran Freire terhadap sistem
pendidikan masa kini.
| Sesi diskusi |
Ketua Penyelenggara Madrasah
Cendekia yang merupakan mahasiswa Teknologi Pendidikan UNNES angkatan 2025,
Andi Muh Jihad, mengatakan bahwa "Menjadi ketua penyelenggara untuk acara
Madrasah Cendekia dengan bahasan book talk buku Pendidikan Kaum Tertindas karya
Paulo Freire adalah sebuah pengalaman yang luar biasa sekaligus penuh tantangan
mendalam. Mengangkat tema kritis tentang pembebasan melalui pendidikan menuntut
saya dan tim untuk tidak sekadar mengurus teknis acara, tetapi juga memahami
esensi dari gagasan besar yang sedang kami bedah. Proses ini membuka mata saya
bahwa manajemen event bukan sekadar menyusun jadwal atau merapikan tempat, melainkan
sebuah ikhtiar kolektif untuk menghidupkan ruang diskusi yang merdeka,
reflektif, dan transformatif bagi para peserta. Pendidikan tidak mengubah
dunia, pendidikan mengubah orang. Orang-oranglah yang mengubah dunia. Kutipan
Paulo Freire tersebut menjadi pengingat utama bagi kita semua. Semoga lewat
ruang bedah buku ini, semangat berpikir kritis, kepedulian sosial, dan
keberanian untuk mempertanyakan ketimpangan tidak berhenti di ruang acara saja.
Mari jadikan literasi sebagai senjata cinta kasih untuk membebaskan, bukan
menindas, serta terus merawat tradisi diskusi yang bernas demi kemajuan
bersama."
Sementara itu, salah satu peserta
dari mahasiswa Pendidikan Non Formal UNNES angkatan 2025, Halimatus Sholikhah,
menilai diskusi ini berhasil membuka mata peserta terhadap realitas sosial dan
praktik pendidikan saat ini. "Diskusi dalam bedah buku ini berhasil
bongkar realitas sosial di sekitar kita. Saya menjadi lebih peka terhadap
konsep "banking concept of education" (pendidikan gaya bank), di mana
murid hanya dianggap sebagai wadah kosong, dan bagaimana sistem ini tanpa sadar
masih sering kita temui di sekitar kita. semoga nilai-nilai “pendidikan
hadap-masalah" (problem-posing education) dan konsep dialogis yang digagas
Freire tidak berhenti di ruang diskusi ini saja. Kita sebagai pendidik, calon
pendidik, atau pembelajar harus mulai menerapkannya secara nyata untuk
menciptakan ruang belajar yang memanusiakan manusia (humanisasi)." tutur
Halimatus Sholikhah.
Acara bedah buku tersebut
diakhiri dengan pembagian doorprize bagi peserta paling interaktif,
pembacaan doa bersama, serta sesi dokumentasi bersama pemantik diskusi.
0Komentar