TpM8TpY5GSM5BSA5TpzoGUYlTi==

Slider

Sembilan Penghargaan dari WorldSkills Shanghai 2026, Delegasi Indonesia Catat Capaian Terbaik

sumber gambar: kemendikdasmen.go.id

JAKARTA. PAMONG.ID | Kanal Pendidik Indonesia – Kontingen Indonesia pulang dari WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026 dengan sembilan penghargaan, yaitu satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence. Ajang keterampilan vokasi terbesar di dunia itu digelar di Shanghai, Tiongkok, pada 22–27 September 2026.


WSC ke-48 ini diikuti sekitar 1.400 peserta dari 68 negara yang bertanding di 64 bidang keahlian. Indonesia mengirim 20 kompetitor di 17 bidang, terdiri atas siswa SMK, alumni, dan mahasiswa politeknik. Mereka didampingi 17 eksper dan technical delegate. Kemendikdasmen menyebut ini sebagai delegasi terbesar Indonesia sejak pertama kali ikut serta di WorldSkills.


Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyambut kepulangan para delegasi di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Ia menyampaikan terima kasih kepada para kompetitor dan eksper atas komitmen mereka selama mengikuti program WorldSkills.


Siapa saja peraih penghargaan?

Medali perak diraih Edsel Parama Mustapa di bidang Software Applications Development. Edsel adalah mahasiswa Manajemen Informatika Politeknik Astra dan alumni SMKS PGRI 3 Malang.

Dua medali perunggu diraih oleh:

  • Rash Asyari Amyris Thalib, bidang IT Network Systems Administration. Ia mahasiswa Sistem Informasi Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM).
  • Fatima Rani Al Husna Prameswara, bidang Restaurant Service. Ia mahasiswi Pengelolaan Perhotelan Institut Pariwisata Trisakti.


Enam Medallion for Excellence diperoleh pada bidang Web Technologies, Industrial Control, Electronics, Mechatronics, Refrigeration and Air Conditioning, serta Automobile Technology. Dua di antaranya diraih Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi, alumni SMKN 1 Jenangan, pada bidang Mechatronics beregu. Keduanya termasuk tiga wakil Jawa Timur yang membawa pulang penghargaan.


Jumlah bidang berprestasi naik

Dalam laporannya, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Tatang Muttaqin menyampaikan bahwa jumlah bidang yang meraih prestasi internasional naik dari empat menjadi sembilan. Menurutnya, capaian ini menunjukkan lulusan vokasi Indonesia mampu memenuhi standar kompetensi internasional. Para peserta menjalani pelatihan intensif sekitar lima hingga enam bulan sebelum berangkat.


Cerita di balik medali

Edsel berlatih enam bulan dan mengerjakan soal baru setiap hari. Di arena lomba, ia mengerjakan seluruh siklus pengembangan aplikasi, dari perencanaan, pembuatan, hingga pengujian, untuk perangkat Android. Ia mengaku sejak awal tidak menarget medali, sehingga hasil ini membuatnya lega.


Perjalanan Fatima jauh lebih panjang, sekitar dua setengah tahun. Ia memulainya dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS), lalu berlanjut ke kompetisi tingkat ASEAN, seleksi daerah, seleksi nasional, dan training center WSC Shanghai 2026. Selama persiapan ia juga beberapa kali berlatih langsung di industri untuk terbiasa melayani tamu dan berinteraksi dengan para profesional.


Rash sempat mengira peluang medali sudah tertutup karena sejumlah hal tidak berjalan sesuai rencana. Ternyata namanya masuk tiga besar saat pengumuman.


Eksper pendamping Rash, Angga Friyanto, menilai kemampuan teknis peserta Indonesia sudah mampu bersaing. Angga sendiri pernah menjadi kompetitor di WorldSkills 2013 dan belum membawa pulang penghargaan. Menurutnya, tantangan yang tersisa adalah rasa percaya diri saat berhadapan dengan peserta dari negara lain.


Pengalaman dibawa ke sekolah vokasi

Kemendikdasmen menegaskan bahwa capaian ini tidak berhenti pada medali. Pengalaman di Shanghai akan disebarkan melalui penyelarasan LKS, penguatan pusat pelatihan mitra, dan penyusunan buku tentang perjalanan Indonesia di panggung keterampilan dunia.


Abdul Mu'ti juga mengingatkan agar prestasi tidak berhenti sebagai kebanggaan sesaat. Menurutnya, keahlian para juara perlu dimanfaatkan di dunia usaha dan industri. Ia menyebut capaian ini "bukan akhir dari perjalanan panjang kita" untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua.


Dengan demikian, pengalaman bertanding dengan peserta dari berbagai negara diharapkan bisa menjadi bahan belajar bagi peserta didik lain di sekolah, lembaga vokasi, dan dunia kerja.

0Komentar

Special Ads
© Copyright - pamong.id
Berhasil Ditambahkan

Type above and press Enter to search.