Sumber gambar: puslapdik.kemendikdasmen.go.id
JAKARTA, PAMONG.ID | Kanal Pendidik Indonesia – Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan pentingnya memperluas makna literasi agar tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, melainkan mencakup kecakapan berpikir kritis, memilah informasi, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijak. Penegasan tersebut disampaikan delam peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2026 di Jakarta, yang bertepatan dengan momentum rillis evaluasi Programme for International Student Assesment (PISA) 2026.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa percepatan teknologi dan perubahan global menurut standar literasi yang lebih transformatif dan reflektif.
"Kemampuan literasi saar ini tidak cukup dimaknai sekedar kemampuan membaca dan menulis. Di tengah perubahan sosial, krisis lingkungan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI yang tidak bisa dibendung, literasi saat ini harus dimaknai secara lebih luas sebagai kemampuan untuk memahami informasi secara kritis, berfikir reflektif terhadap suatu konten yang konsumsi, terus belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan," ujar Abdul Mu'ti.
Direktur Jendral Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menambahkan bahwa pemaknaan ini sejalan dengan tema HAI 2026 yang diadaptasi Indonesia menjadi "Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera."
"Dulu kita berjuang agar setiap orang bisa membaca dan menulis. Hari ini tantangannya lebih luas lagi. Kita harus mampu membaca informasi, memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan, berpikir kritis menggunakan teknologi, dan menggunakan kecerdasan buatan secara bijak dalam mengambil keputusan serta terus belajar sepanjang hayat," kata Tatang.
Tantangan literasi ini menemukan relevansinya pada laporan PISA 2026 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 8 September 2026. Evaluasi global terhadap murid usia 15 tahun di 91 negara tersebut mencatat penurunan kemampuan membaca secara internasional sebesar 28 poin di negara OECD dan 16 poin di negara non-OECD dibanding data 2015.
Direktur Bidang Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, mengungkapkan bahwa banjir informasi di era digital berdampak pada penurunan kedalaman berpikir murid.
"Proporsi jumlah murid yang terburu-buru membaca teks dan memberikan jawaban singkat namun salah hampir berlipat ganda antara tahun 2018 dan 2025. Di dunia yang semakin dibanjiri informasi, murid saat ini cenderung kurang mampu berpikir mendalam dan memisahkan informasi penting dari informasi yang tidak relevan," papar Schleicher.
Di tingkat nasional, penilaian PISA diikuti oleh 14.168 murid dari 419 sekolah yang mewakili sekitar 3,99 juta anak usia 15 tahun di Indonesia. Hasil tes menunjukkan skor kemampuan membaca murid Indonesia mengalami peningkatan 6 poin, dari 359 pada tahun 2022 menjadi 365. Meskipun naik, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD sebesar 461 poin.
Data PISA juga mencatat bahwa sekitar 27 persen murid Indonesia berada di Level 2 kemampuan membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 69 persen. Selain itu, hampir tidak ada murid Indonesia yang mencapai kemampuan membaca tingkat tinggi di Level 5, dibandingkan dengan rata-rata 6 persen di negara-negara OECD.
Meski demikian, laporan PISA 2026 menunjukkan modal sosial yang positif pada murid Indonesia. Sebanyak 80 persen murid Indonesia tercatat memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (OECD 73 persen), 74 persen mengerahkan upaya ekstra saat menghadapi tantangan belajar (OECD 60 persen), 52 persen aktif merencanakan strategi belajar (OECD 37 persen), dan 55 persen rutin melakukan evaluasi mandiri (OECD 49 persen). Selain itu, 82 persen murid Indonesia mengonfirmasi adanya dukungan optimal dari guru pada pembelajaran sains.
0Komentar