TpM8TpY5GSM5BSA5TpzoGUYlTi==

Slider

Wadah 'Bercerita Agar Waras', Mahasiswa PBSI UNNES Manfaatkan Media Sosial untuk Menulis



Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi


SEMARANG. PAMONG.ID | Kanal Pendidik Indonesia – Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Riska Rovita Sari, memanfaatkan platform TikTok untuk membagikan tulisan yang bersumber dari perasaan dan pengalaman pribadinya. Aktivitas tersebut membantunya mengembangkan kemampuan menulis sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.

Riska, mahasiswa semester 5, mulai aktif menulis sejak masuk kuliah dan mulai membagikan tulisannya melalui TikTok pada semester 5. Ia memilih TikTok sebagai media berbagi tulisan karena mengikuti tren penggunaan platform tersebut. Selain membagikan tulisan berupa kutipan (quotes), aktivitas menulis juga dilakukannya untuk mengisi waktu luang.

"Awalnya karena pengen gimana caranya bisa menuangkan perasaan, jadi mulai nulis karna itu sih," ujar Riska.

Gagasan tulisannya umumnya bersumber dari perasaan yang ia rasakan. Pengalaman sehari-hari juga kerap menjadi bahan tulisan, salah satunya ketika ia merasa belum mengenali dirinya sendiri.
Dokumentasi gambar: akun tiktok Riska
@perlahanmenulis

Dalam proses penulisan, Riska menuliskan apa yang sedang dirasakan dalam bentuk draf, kemudian merapikannya sebelum diunggah. Ia biasanya menulis ketika memiliki waktu luang.

Namun, aktivitas tersebut juga memiliki kendala. Riska menyebut jumlah penonton (viewers) yang masih belum mengalami peningkatan sebagai salah satu tantangan. Ketika kehabisan ide atau merasa tidak percaya diri dengan tulisan, ia memilih untuk tidak mengunggahnya.

Sebagai mahasiswa PBSI, Riska mengatakan perkuliahan berpengaruh terhadap cara dirinya menulis. Ia merasa perkuliahan membantunya menggunakan diksi yang lebih beragam dan menyusun tulisan yang lebih padu.

"Ya ada, ternyata dalam menulis itu tidak ada batasannya, misalnya puisi itu ternyata tidak berpatok harus pada 4 sajak. Yang penting bisa menuangkan perasaan," terangnya.

Menurut Riska, media sosial juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan menulis. Kebiasaan menulis secara rutin, menurutnya, dapat membuat tulisan menjadi lebih luwes dan tidak kaku.

"Bisa banget, kalo sering nulis kan otomatis nanti tulisannya tidak kaku lagi," katanya.

Ia membedakan tulisan untuk tugas kuliah dengan tulisan yang dibagikan melalui media sosial. Menurutnya, tugas kuliah cenderung lebih terstruktur, sedangkan tulisan untuk media sosial dapat disesuaikan dengan hal yang ingin disampaikan.

Aktivitas menulis di TikTok juga membuat Riska lebih percaya diri setelah mengetahui bahwa banyak orang menyukai dan mengapresiasi tulisannya. Salah satu respons yang berkesan baginya datang dari pembaca yang merasa tulisan Riska relevan dengan pengalaman mereka.

"Lebih pede dengan tulisanku, karena ternyata banyak orang yang suka," ungkap Riska.

Riska juga memandang kebiasaan menulis sebagai salah satu cara bagi mahasiswa untuk bercerita. Menurutnya, menulis dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang tidak memiliki seseorang untuk diajak berbicara.

"Perlu karena menurutku dengan menulis seperti itu buat anak muda (mahasiswa) itu jadi salah satu cara untuk bercerita agar tetap waras, apalagi kalo ngga punya someone to talk, mungkin itu bisa jadi opsinya," jelasnya.

Ia mendorong mahasiswa yang memiliki ketertarikan menulis untuk tidak ragu membagikan tulisannya dan tidak terlalu memikirkan tanggapan orang lain.

"Ngga papa posting aja, ngga usah mikirin tanggapan orang, yang penting perasaanmu tercurahkan," pesan Riska.

Ke depannya, Riska ingin melanjutkan aktivitas menulisnya hingga dapat menghasilkan buku. Ia juga berencana mengembangkan karya melalui platform lain, seperti YouTube dan podcast di Spotify.

0Komentar

Special Ads
© Copyright - pamong.id
Berhasil Ditambahkan

Type above and press Enter to search.